Selasa, 07 Juli 2020

Kisah Jin Mendengar Al-Quran Lantas Berdakwah pada Kaumnya


Ada kisah yang bisa diambil pelajaran yaitu tentang para jin yang mendengar Al-Quran lantas mendapatkan hidayah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ (29) قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ (30) يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآَمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (31) وَمَنْ لَا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (32(

“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)’. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: ‘Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata’.” (QS. Al-Ahqaf: 29-32)

Di antara cerita tentang ayat di atas, pernah sekelompok jin itu melewati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ketika itu beliau sedang membaca Al-Qur’an. Ini terjadi ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berputus asa dari penduduk Makkah lantas beliau pergi ke Thaif untuk mendakwahi penduduk Thaif untuk masuk Islam. Hal ini terjadi sepeninggal Abu Thalib. Dan ketika itu dibacakan Al-Qur’an saat shalat Shubuh. Ada tokoh-tokoh para jin lewat saat pembacaan Al-Qur’an tersebut, mereka mendengar Al-Qur’an tersebut dengan seksama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—menurut pendapat ini—tidak mengetahui kedatangan jin tadi. Ada yang mengatakan mereka mendengar Al-Qur’an ini di tempat yang bernama Al-Hajun, ada yang mengatakan di Bathn Makkah sebagaimana pendapat Ibnu ‘Abbas dan Mujahid.

Adapun pengertian an-nafr dalam ayat adalah jumlah antara tiga hingga sepuluh. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qutaibah.

Ada pendapat dari ‘Atha’ yang mengatakan bahwa para jin adalah Jin Yahudi, makanya disebutkan mereka mendengar kitab yang diturunkan setelah Nabi Musa.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus pula kepada para jin dan manusia. Lihat bahasan dalam Zaad Al-Masiir, 7:389-390.

Syaikh Musthafa Al-‘Adawi menerangkan bahwa kenapa sampai jin bisa mendengar Al-Qur’an dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebabnya adalah diterangkan dalam banyak hadits dan atsar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendapatkan wahyu terjadi penjagaan ketat di langit. Sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, para jin biasa mencuri berita langit. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, pencuri berita langit dilempar dengan api. Iblis yang jadi pembesar mereka memerintahkan untuk mencari tahu di bumi bagian timur dan barat, kenapa sampa bisa dilempar dengan api. Maka ada jin yang menuju Tihamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada pada pohon kurma, ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang melaksanakan shalat Fajar berjamaah bersama para sahabatnya. Ketika para jin mendengar Al-Qur’an, sebagian mereka mengatakan pada yang lain, “Diamlah.” Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai membaca Al-Qur’an, para jin tersebut kembali pada kaumnya. Para jin itu mengabarkan kepada kaumnya tentang Al-Qur’an yang mereka dengar. Demikian diterangkan dalam At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil – Juz-u Al-Ahqaf, hlm. 70.

Ketika jin mendengar Al-Qur’an, mereka menyimaknya, lantas mereka berkata,

هذا واللَّهِ الذي حَالَ بيْنَكُمْ وبيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ،فَهُنَالِكَ حِينَ رَجَعُوا إلى قَوْمِهِمْ، وقالوا: يا قَوْمَنَا: {إنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا، يَهْدِي إلى الرُّشْدِ، فَآمَنَّا به ولَنْ نُشْرِكَ برَبِّنَا أحَدًا} [الجن: 2]، فأنْزَلَ اللَّهُ علَى نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: {قُلْ أُوحِيَ إلَيَّ أنَّه اسْتَمع نَفَرٌ مِنَ الجِنِّ} [الجن: 1] وإنَّما أُوحِيَ إلَيْهِ قَوْلُ الجِنِّ

“Inilah Al-Qur’an yang membuat kalian terhalang dari mendengar berita langit.” Ketika itu mereka kembali kepada kaum mereka. Mereka berkata, “Wahai kaumku: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Rabb kami.” (QS. Al-Jin: 2). Maka Allah turunkan pada nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallamayat ‘Katakanlah (hai Muhammad): ‘Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran).’ (QS. Al-Jin: 1). Sesungguhnya diwahyukan kepadanya perkataan jin.” (HR. Bukhari, no. 773 dan Muslim, no. 449)

 

Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus pula kepada kaum jin?

Iya, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada kaum jin. Hal ini dibuktikan dengan dalil-dalil berikut. Allah Ta’ala berfirman,

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1)

يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآَمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (QS. Al-Ahqaf: 31)

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Ahqaf: 29)

 

Apakah ada rasul dari kalangan jin?

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Dari ayat ini dijadikan dalil bahwasanya jin punya dai-dai yang tugasnya memberikan peringatan, namun mereka tidak memiliki rasul. Dan tidak diragukan lagi bahwa Allah tidak mengutus rasul dari kalangan jin.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:645)

Ibnu Katsir menyebutkan dalil-dalil dalam hal ini.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ

“Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri.” (QS. Yusuf: 109)

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ

“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (QS. Al-Furqan: 20)

Juga tentang Nabi Ibrahim—kekasih Allah—disebutkan dalam ayat,

وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ

“Dan Kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada keturunannya.” (QS. Al-‘Ankabut: 27). Seluruh Nabi yang diutus oleh Allah setelah Nabi Ibrahim merupakan keturunan dari Nabi Ibrahim. Lihat keterangan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:645.

 

Al-Quran itu kitab yang turun sesudah Musa, kenapa bukan sesudah Isa?

Dalam ayat disebutkan,

قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ

“Mereka berkata: ‘Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran.” (QS. Al-Ahqaf: 30)

Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah, di sini tidaklah disebutkan Nabi Isa dikarenakan dalam Injil (yang diturunkan pada Isa) hanya berisi nasihat-nasihat dan wejangan, hanya sedikit penghalalan dan pengharaman. Injil sejatinya hanyalah penyempurna dari kitab Taurat sebelumnya. Sehingga yang dijadikan rujukan Isa adalah Taurat. Oleh karena itu, para jin dalam ayat tersebut mengatakan “Al-Qur’an yang telah diturunkan sesudah Musa”. Demikianlah yang dikatakan oleh Waraqah bin Naufal. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:645.

 

Al-Qur’an itu membenarkan kitab-kitab sebelumnya

Disebutkan dalam ayat,

مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ

“Al-Qur’an itu membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya.” (QS. Al-Ahqaf: 30). Ayat ini maksudnya–kata Ibnu Katsir–, Al-Qur’an itu membenarkan kitab-kitab yang diturunkan pada nabi-nabi sebelumnya.

 

Al-Qur’an menunjukkan pada kebenaran dan jalan yang lurus

Maksudnya adalah:

Al-Qur’an menunjukkan pada kebenaran dalam keyakinan dan beritanya. Al-Qur’an juga menunjukkan pada jalan yang lurus yaitu pada amalan. Karena Al-Qur’an berisi khabar dan thalab, yaitu berita dan tuntutan. Berita Al-Qur’an berarti benar, tuntutan (berupa perintah dan larangan) berarti adil. Itulah yang disebutkan dalam ayat,

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًاۚ

“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil.” (QS. Al-An’am: 115)

Juga disebutkan dalam ayat,

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (QS. At-Taubah: 33). Al-huda (petunjuk) yang dimaksud adalah al-‘ilmun naafi’ (ilmu yang bermanfaat). Dinul haqq (agama yang benar) yang dimaksud adalah amalan saleh.

Sehingga yang dimaksud Al-Qur’an menunjukkan pada kebenaran yaitu pada keyakinan dan Al-Qur’an menunjukkan pada jalan yang lurus pada amaliyah. Demikian hal ini diterangkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:645.

 

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus pada kalangan jin dan manusia

Hal ini ditunjukkan pada ayat,

يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآَمِنُوا بِهِ

“Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya.” (QS. Al-Ahqaf: 31)

 

Apakah jin mukmin masuk surga?

Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan bahwa jin mukmin itu masuk surga sebagaimana pendapat dari sekelompok ulama salaf. Dalil dalam hal ini adalah firman Allah,

يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (QS. Al-Ahqaf: 31)

Begitu juga berdalil dengan keumuman ayat,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 107)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Balasan bagi ahli iman dengan diampuni dosa dan dilepaskan dari siksa yang pedih merupakan konsekuensi dari masuk surga. Karena di akhirat hanya ada dua pilihan yaitu surga atau neraka. Siapa yang selamat dari neraka, maka pasti ia akan masuk surga. Dan tidak ada dalil yang menyatakan kalau jin mukmin tidak masuk surga ketika lepas dari siksa neraka. Seandainya tepat, tentu kami akan berpendapat seperti itu pula. Wallahu a’lam.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:646)

Kita diajarkan untuk menyimak Al-Qur’an

Hal ini disimpulkan dari,

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)’. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al-Ahqaf: 29)

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini, beliau rahimahullah berkata, “Mereka mendengarkan Al-Qur’an (benar-benar fokus mendengarkannya). Itulah adab dari mereka para jin.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:644)

 



Sabtu, 27 Juni 2020

Mereka yang Tersungkur karena Al-Quran


Kisah ini menceritakan seorang hamba Allah yang sangat peka terhadap firman Tuhannya. Pemahamannya terhadap Al-Quran dan rasa takutnya terhadap Sang Pencipta menyebabkan hatinya sangat luluh terhadap Al-Quran. Dia bisa jatuh tersungkur, menangis tersedu-sedu, pingsan, bahkan hingga wafat, karena mendengar lantunan Al-Quran. Bukan dibuat-buat, tapi benar-benar karena buah ketakwaannya.

Barangkali merekalah orang yang dimaksud dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَقْوَامٌ أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ

“Akan masuk surga sekelompok orang, hati mereka seperti hati burung.” (HR. Ahmad 8382 & Muslim 2840)

Dalam kitab Syarh Shahih Muslim (17/177), Imam Nawawi menyebutkan, ada 3 pendapat ulama dalam memaknai orang yang hatinya seperti hati burung.

Pertama, orang yang hatinya lembut, pemahaman agama dan hikmahnya banyak.

Kedua, orang yang hatinya mudah takut kepada Allah, mudah dinasihati dan kembali kepada kebenaran.

Ketiga, orang yang hatinya sangat bergantung dan tawakkal kepada Allah, seperti burung yang berikhtiar mencari makan di pagi hari dalam perut kosong, lalu kembali dengan perut kenyang.

Hati yang sangat lunak dan lembut dipenuhi dengan ketakutan kepada Allah sehingga mudah kembali pada jalan-Nya. Sebagaimana burung, binatang yang sangat peka dan mudah kaget.

Diantara hamba Allah yang bisa mencapai derajat semacam ini adalah Ali bin Fudhail bin Iyadh rahimahullah. Beliau digelari qatilul qur’an (orang yang ‘dibunuh’ Al-Quran). Al-Munawi dalam Faidhul Qadir (6/460) mengatakan:

وسمي علي بن الفضيل قتيل القرآن

“Ali bin Fudhail digelari qatilul quran”

Beliau bukan ahlul bait. Bukan pula keturunan kerajaan. Beliau putra seorang ulama yang dikenal sangat zuhud, Fudhail bin Iyadh rahimahullah.

Diceritakan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (2/302), dari Muhammad bin Bisyr Al-Makki, beliau bercerita:

Pada suatu hari kami bernah berjalan bersama Ali bin Fudhail. Kemudian kami melewati daerah Bani Al-Harits Al-Makhzumi, yang pada saat itu ada seorang guru  yang sedang mengajar anak-anak. Kemudian sang guru membaca firman Allah:

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى

“Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).” (QS. An-Najm: 31)

Tiba-tiba Ali bin Fudhail langsung teriak dan jatuh pingsan. Datanglah ayahnya dan mengatakan: “Sungguh, dia terbunuh karena Al-Quran.”

Kemudian dia dibawa pulang. Salah seorang yang membawanya pulang bercerita bahwa Fudhail, ayahnya mengabarkan, Ali tidak bisa shalat pada hari itu, shalat dzuhur, asar, maghrib, dan isya karena koma. Pada tengah malam dia baru tersadar.

Di lain kasus, Ibnu Qudamah menceritakan kisah seorang pemuda dalam kitabnya At-Tawwabin. Seorang pemuda dari Al-Azd. Beliau menghadiri majlis ilmu. Ketika beliau mendengar ada orang yang membaca firman Allah:

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ

Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya. (QS. Ghafir: 18)

Tiba-tiba, beliau jatuh tersungkur, pingsan. Akhirnya dia diangkat di tengah keramaian banyak orang dalam kondisi pingsan. Masya Allah..sebegitu pekanya keimanan orang-orang yang hatinya telah tersbung begitu kuatnya dengan Kalamullah.

Bila kita renungkan Ramadhan kali ini sesungguhnya memberikan peluang dan kesempatan besar untuk menghadirkan hati yang seperti ini. Memperbanyak tadabbur qur'an, muhasabah, tafakkur menemukan hikmah dari setiap peristiwa kehidupan kita. Memperbanyak istighfar dan bertaubat sambil bertawakal agar sukses meraih kemenangan Ramadhan dengan mendapatkan buah ketaqwaan. 

Ya Rabb, jadikanlah kami hamba-Mu yang lunak hatinya, dan mencintai mereka yang lunak hatinya karena cinta dan takut kepada-Mu ya Allah..

اللّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنَ الَّذِيْنَهُمْ أَهْلُكَ وَخَآصَّتُكَ يَآأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

"Ya Allah.. jadikanlah kami keluarga Al-Qur’an,
yaitu orang-orang yang menjadi keluarga-Mu dan yang Engkau khususkan.. 
Wahai Yang Paling Penyayang diantara yang penyayang"


Minggu, 08 Desember 2019

Seorang Guru Yang Belajar Kepada Muridnya

Syaikh Ibnu Al-'Arabi dalam kitab Futuhat Al-Makkiyah mengutib sebuah kisah istimewa, tentang kisah hikmah seorang guru yang belajar kepada muridnya. Kitab Al Futuhat Al-Makiyah merupakan karya monumental Ibnu Al-'Arabi yang mulai ditulis sejak 599 H di Makkah. Kitab yang berisi tentang kisah-kisah yang sarat akan ma'rifat seorang hamba dalam perjalanan hidupnya. Diantaranya adalah kisah seorang pemuda sholih yang masih belia yang menemui gurunya dalam keadaan pucat pasi pada suatu pagi.


"Wahai Guru, semalam aku mengkhatamkan Al-Quran dalam shalat malamku".


Sang guru tersenyum, "Bagus nak, nanti malam tolong hadirkan bayangan diriku d hadapanmu saat kau baca Al-Quran itu. Rasakanlah seolah-olah aku sedang menyimak apa yang engkau baca".


Esok harinya, sang murid datang dan melapor pada gurunya.


"Yaa Guru, semalam aku hanya sanggup menyelesaikan separuh dari Al-Qur'an".


'Engkau sungguh telah berbuat baik", sang guru menepuk pundaknya. "Nanti malam lakukan lagi dan kali ini hadirkan wajah para Nabi yang telah mendengar Al-Qur'an  itu langsung dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Bayangkanlah baik-baik bahwa mereka sedang mendengkarkan dan memeriksa bacaanmu".


Pagi-pagi sang murid sudah menghadap dan mengadu kepada gurunya.


"Duh guru", keluhnya, "Semalam bahkan hanya sepertiga Al-Quran yang dapat aku lafalkan".


"Alhamdulillah, engkau telah berbuat baik", kata sang guru sambil mengelus dengan penuh kasih kepala pemuda tersebut.

"Nanti malam bacalah Al-Qur'an dengan lebih baik lagi, sebab yang akan hadir di hadapanmu untuk menyimak adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri. Orang yang kepadanya AL-Quran diturunkan".


Seusai sholat shubuh, sang guru bertanya kepada muridnya itu,


"Bagaimana sholatmu semalam ?"


"Aku hanya mampu membaca satu juz, guru. Itupun dengan susah payah", kata pemuda sambih mendesah.


"Maasyaa Allah", kata guru sambil memeluk sang murid dengan bangga.


"Teruskan kebaikan itu nak. Dan nanti malam tolong hadirkan Allah 'Azza wa Jalla di hadapanmu. Sungguh, selama ini pun sebenarnya Allah-lah yang mendengarkan bacaanmu. Allah yang telah menurunkan Al Qur'an. Dia selalu hadir di dekatmu. Jikapun engkau tak melihatnya, Dia pasti melihatmu. Ingat baik-baik. Hadirkan Allah, karena Dia mendengar dan menjawab apa yang kau baca !".


Keesokan harinya, ternyata pemuda itu jatuh sakit. Sang guru pun datang untuk menjenguknya. "Ada apa denganmu ?", tanya sang guru.


Sang pemuda berlinang air mata, "Demi Allah, wahai Guru, semalam aku tak mampu menyelesaikan bacaanku. Al Fatihah  pun tak sanggup aku menamatkannya. Ketika sampai pada ayat, " Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin" lidahku kelu. Aku merasa sedang berdusta. Di mulut aku ucapkan "KepadaMU Yaa Allah, aku menyembah". Tapi jauh di dalam hatiku, aku tahu bahwa aku sering memperhatikan yang selain Dia. Ayat itu tak mau keluar dari lisanku. Aku menangis dan tetap saja tak mampu menyelesaikannya".


"Nak..." kata sang guru sambil berlinang air mata.


"Mulai hari ini engkaulah guruku. Dan sungguh aku ini muridmu. Ajarkan kepadaku apa yang telah kau peroleh. Sebab meski aku  membimbingmu di jalan itu, aku sendiri belum pernah sampai pada puncak pemahaman yang engkau dapat hari ini".

Selasa, 16 Oktober 2018

Matan Jazariyah

المقدمة

1 يَقُـولُ رَاجِــي عَـفْـوِ رَبٍّ سَـامِـعِ *** مُحَـمَّـدُ بْـنُ الْـجَـزَرِيِّ الشَّافِـعِـي
2 الْحَـمْـدُ لـلَّـهِ وَصَـلَّـى الـلَّــهُ *** عَـلَــى نَـبِـيِّــهِ وَمُـصْـطَـفَـاهُ
3 مُـحَـمَّـدٍ وَآلِــهِ وَصَـحْـبِــهِ *** وَمُـقْـرِئِ الْـقُـرْآنِ مَــعْ مُـحِـبِّـهِ
4 وَبَـعْــدُ إِنَّ هَـــذِهِ مُـقَـدِّمَــهْ1 *** فِيـمَـا عَـلَـى قَـارِئِـهِ أَنْ يَعْـلَـمَـهْ
5 إذْ وَاجِــبٌ عَلَـيْـهِـمُ مُـحَـتَّــمُ *** قَـبْـلَ الـشُّـرُوعِ أَوَّلاً أَنْ يَعْـلَـمُـوا
6 مَـخَـارِجَ الْـحُـرُوفِ وَالـصِّـفَـاتِ *** لِيَلْـفِـظُـوا2 بِـأَفْـصَـحِ الـلُّـغَــاتِ
7 مُـحَـرِّرِي التَّـجْـوِيـدِ وَالمَـوَاقِـفِ *** وَمَـا الَّـذِي رُسِّـمَ3 فِـي المَصَـاحِـفِ
8 مِـنْ كُـلِّ مَقْطُـوعٍ وَمَوْصُولٍ بِـهَـا *** وَتَـاءِ أُنْثَـى لَـمْ تَكُـنْ تُكْـتَـبْ بِــ:هَـا

PENGANTAR

1. Akan berkata seseorang yang mengharap ampunan dari Allaah ﷻ Rabb yang
Maha Mendengar: Syamsuddin Abul Khair Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ali bin Yuusuf Al-Jazariy Ad-Dimasyqi Asy-Syaafi’i.

2. Segala puji bagi Allaah ﷻ dan shalawat (rahmat) dari Allaah ﷻ atas nabi-Nya dan manusia pilihan-Nya,

3. Yaitu Rasuulullaah Muhammad bin Abdullaah juga seluruh keluarga dan para sahabatnya, serta para Muqriil Quran dan para pecintanya.

4. Kemudian setelah itu, sesungguhnya kitab ini merupakan Muqaddimah (pendahuluan) yang berisi mengenai apa-apa yang wajib dipelajari oleh para pembaca Al-Quran.

5. Maka wajib secara mutlak bagi para pembaca Al-Quran, sebelum mereka mulai membaca Al-Quran, hendaklah terlebih dahulu memahami,

6. Tempat-tempat keluarnya huruf hijaiyah serta sifat-sifat yang mengiringinya, agar mereka bisa mengucapkan huruf demi huruf tersebut dengan bahasa yang paling fasih.

7. Menguasai dan mampu menerapkan kaidah-kaidah tajwid juga kaidah-kaidah waqaf (cara berhenti dan memulai membaca Al-Quran) dengan baik dan benar, serta memahami apa-apa yang tertulis pada mushaf-mushaf ‘Utsmani,

8. Yaitu dari mulai mengenai dua kata yang tertulis disambung atau dipisah, juga mengenai penulisan huruf Ta ta’nits (huruf Ta yang digunakan untuk menunjukkan perempuan/ feminin) yang tidak ditulis dengan Ta marbuthah (yakni Ta yang berbentuk seperti huruf Ha dengan dua titik di atasnya), padahal biasanya Ta ta’nits ditulis dengan Ta marbuthah bukan Ta maftuhah (Ta asli).


باب مخارج الحروف

9 مَخَـارِجُ الحُـرُوفِ سَبْـعَـةَ عَـشَـرْ *** عَلَـى الَّـذِي يَخْتَـارُهُ مَــنِ اخْتَـبَـرْ
10 فَأَلِـفُ الـجَـوْفِ4 وأُخْتَـاهَـا وَهِــي *** حُــرُوفُ مَــدٍّ للْـهَـوَاءِ تَنْـتَـهِـي
11 ثُـمَّ لأَقْصَـى الحَـلْـقِ هَـمْـزٌ هَـاءُ *** ثُــمَّ لِـوَسْـطِـهِ5 فَـعَـيْـنٌ حَـــاءُ
12 أَدْنَــاهُ غَـيْـنٌ خَـاؤُهَـا والْـقَـافُ *** أَقْصَـى اللِّسَـانِ فَـوْقُ ثُــمَّ الْـكَـافُ
13 أَسْفَـلُ وَالْوَسْـطُ فَجِيـمُ الشِّـيـنُ يَـا *** وَالـضَّـادُ مِــنْ حَافَـتِـهِ إِذْ وَلِـيَــا
14 لاضْرَاسَ مِـنْ أَيْـسَـرَ أَوْ يُمْنَـاهَـا *** وَالـــلاَّمُ أَدْنَــاهَــا لِمُنْـتَـهَـاهَـا
15 وَالنُّونُ مِـنْ طَرَفِـهِ تَحْـتُ اجْعَـلُـوا *** وَالــرَّا يُدَانِـيـهِ لِظَـهْـرٍ أَدْخَـلُ
16 وَالطَّـاءُ وَالـدَّالُ وَتَـا مِـنْـهُ وَمِـنْ *** عُلْيَـا الثَّنَـايَـا والصَّفِـيْـرُ مُسْتَـكِـنْ
17 مِنْهُ وَمِـنْ فَـوْقِ الثَّنَـايَـا السُّفْـلَـى *** وَالـظَّـاءُ وَالــذَّالُ وَثَــا لِلْعُـلْـيَـا
18 مِـنْ طَرَفَيْهِمَـا وَمِـنْ بَـطْـنِ الشَّفَهْ *** فَالْفَـا مَـعَ اطْـرافِ الثَّنَايَـا المُشْرِفَـهْ
19 لِلشَّفَتَـيْـنِ الْــوَاوُ بَــاءٌ مِـيْــمُ *** وَغُـنَّــةٌ مَخْـرَجُـهَـا الخَـيْـشُـومُ


MAKHARIJUL HURUF (TEMPAT KELUARNYA HURUF)

9. Tempat-tempat keluar huruf hijaiyah itu berjumlah 17 (tujuh belas) tempat untuk 29 (dua puluh sembilan) huruf, berdasarkan pendapat yang terpilih dari para Ulama Ahli Qiraah. Ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Al-Imam Ibnul Jazariy.

10. Maka pada rongga yang mencakup rongga tenggorokan hingga rongga mulut, terdapat Alif dan saudari-saudarinya yakni huruf-huruf mad (Wawu mad dan Ya mad)
yang berhenti seiring dengan berhentinya nafas.

11. Kemudian pada tenggorokan yang paling jauh dari rongga mulut, tepatnya pada pangkal pita suara (laring), keluar dua huruf: Hamzah dan Ha. Kemudian pada tenggorokan bagian tengah, yakni pada katup epiglotis (lisaanul mizmaar) keluar huruf ‘Ain dan Ha,

12. Pada tenggorokan yang paling dekat dengan rongga mulut, keluar huruf Ghain dan Kha, tepatnya merupakan persentuhan antara bagian belakang lidah (jadzrul lisaan) dengan ujung uvula, yakni daging yang tersambung dengan langit-langit dan merupakan persimpangan antara rongga mulut dengan rongga hidung, dekat dengan orofaring (faring bagian tengah).
Adapun huruf Qaf keluar dari pangkal lidah yang bersentuhan dengan langit- langit atas, yakni langit-langit yang lunak.
Kemudian huruf Kaf...

13. Tempat keluarnya di bawah huruf Qaf, yakni persentuhan antara pangkal lidah dengan langit-langit yang keras dan yang lunak sekaligus, sedikit di bawah tempat keluarnya huruf Qaf.
Pada tengah lidah keluar huruf Jim bila disentuhkan ke langit-langit, serta keluar huruf Syin dan Ya bila digerakkan mendekati langit-langit.
Huruf Dhad keluar dari sisi lidah yang memanjang dari pangkal lidah hingga ke ujung lidah, saat bersentuhan dengan...

14. Gigi geraham, baik yang sebelah kiri ataupun sebelah kanan, bahkan bisa juga kedua sisi lidah disentuhkan dengan gigi geraham yang kiri dan yang kanan sekaligus.
Huruf Lam keluar dari ujung sisi lidah yang merupakan akhir dari tempat keluarnya huruf Dhad di sebelah kiri melingkar hingga sebelah kanan, melalui akhir dari ujung sisi lidah pada bagian depan (kepala lidah). Disentuhkan dengan langit-langit yang dekat dengan gusi gigi seri atas.

15. Dan huruf Nun keluar dari ujung lidah yang bersentuhan dengan langit-langit di bawah tempat keluarnya huruf Lam, lebih dekat ke gusi gigi seri atas.
Adapun huruf Ra keluar dekat dengan tempat keluarnya huruf Nun, namun sedikit masuk ke punggung lidah, yakni bagian ujung lidah yang dekat dengan tengah lidah.

16. Huruf Tha, Dal, dan Ta keluar dari bagian ujung lidah yang bersentuhan dengan bagian belakang gigi seri atas. Huruf-huruf Shafir (yakni Shad, Zay, dan Sin) keluar bila ujung lidah tegak/ sejajar...

17. Dan mendekat ke atas gigi seri bawah. Adapun huruf Zha, Dzal, dan Tsa lebih tinggi lagi,

18. Yakni keluar dari persentuhan ujung lidah dengan ujung gigi seri atas. Dan dari perut bibir bawah yang bersentuhan dengan ujung gigi seri atas keluar huruf Fa.

19. Dari dua bibir keluar huruf Wawu, Ba, dan Mim. Sedangkan huruf-huruf Ghunnah (suara dengung pada Nun dan Mim) tempat keluarnya adalah rongga hidung.
باب الصفات

20 صِفَاتُهَـا جَـهْـرٌ وَرِخْــوٌ مُسْتَـفِـلْ *** مُنْفَـتِـحٌ مُصْمَـتَـةٌ وَالـضِّـدَّ قُـــلْ
21 مَهْمُوسُهَـا فَحَثَّـهُ شَخْـصٌ سَـكَـتْ *** شَدِيْدُهَـا لَفْـظُ أَجِــدْ قَــطٍ بَـكَـتْ
22 وَبَيْـنَ رِخْـوٍ وَالشَّدِيـدِ لِـنْ عُمَـرْ *** وَسَبْعُ عُلْوٍ خُصَّ ضَغْـطٍ قِـظْ حَصَـرْ
23 وَصَـادُ ضَـادٌ طَـاءُ ظَـاءٌ مُطْبَـقَـهْ *** وَ فَـرَّ6 مِـنْ لُـبِّ الحُـرُوفُ المُذْلَقَـهْ
24 صَفِيـرُهَـا صَــادٌ وَزَايٌ سِـيــنُ *** قَلْقَـلَـةٌ قُـطْـبُ جَــدٍ وَالـلِّـيـنُ
25 وَاوٌ وَيَـاءٌ سُكِّـنَـا7 وَانْـفَـتَـحَـا *** قَبْلَهُـمَـا وَالانْـحِــرَافُ صُـحَّـحَـا
26 فِـي اللاَّمِ وَالـرَّا وَبِتَكْرِيـرٍ جُـعِـلْ *** وَللتَّفَشِّـي الشِّـيْـنُ ضَــادًا اسْتَـطِـلْ8


SIFAT-SIFAT HURUF

20. Sifat-sifat huruf itu di antaranya: Jahr (jelas/ tertahannya udara), Rakhawah (mengalirnya suara), Istifal (merendahnya lidah), Infitah (terbukanya lidah dengan langit-langit), dan Ishmat (lebih sulit keluar). Mereka merupakan sifat-sifat yang memiliki lawan. Adapun lawan-lawannya adalah:

21. Sifat Hams (mengalirnya udara) yang merupakan lawan dari sifat Jahr huruf- hurufnya terkumpul pada kalimat “Fahatstsahu Syakhshun Sakat”, yakni huruf Fa, Ha, Tsa, Syin, Kha, Shad, Sin, Kaf, dan Ta.

Sifat Syiddah (kuat/ tertahannya suara), yang merupakan lawan dari sifat Rakhawah, huruf-hurufnya “Ajid Qathin Bakat”, yakni Hamzah, Jim, Dal, Qaf, Tha, Ba, Kaf, dan Ta.

22. Dan di antara sifat Rakhawah dan Syiddah ada sifat pertengahan (bayniyah/ tawassuth), yang huruf-hurufnya terkumpul dalam “Lin ‘Umar”, yakni Lam, Nun, ‘Ain, Mim, dan Ra.

Dan ada tujuh huruf yang lidah tegang dan terangkat saat mengucapkannya (Isti’la, lawan dari Istifal), terangkum dalam “Khushsha Dhaghthin Qizh”, yakni Kha, Shad, Dhad, Ghain, Tha, Qaf, dan Zha.

23. Huruf Shad, Dhad, Tha, dan Zha merupakan huruf-huruf yang memiliki sifat Ithbaq, yakni lidah terangkat sangat tinggi hingga seolah-olah menempel langit-langit dan tidak menyisakan ruang antara lidah dengan langit-langit, merupakan lawan dari sifat Infitah.

Dan “Farra Min Lubbi”, yakni huruf Fa, Ra, Mim, Nun, Lam, dan Ba merupakan huruf-huruf yang lebih mudah dan cepat dikeluarkan (Idzlaq) dibandingkan selainnya
(Ishmat), disebabkan dekatnya dengan ujung lidah.

24. Juga ada huruf-huruf yang tidak memiliki lawan, di antaranya sifat Shafir (huruf yang berdesis), yakni huruf Shad, Zay, dan Sin. Huruf-huruf yang memiliki sifat Qalqalah

Dan huruf yang memiliki sifat Liin (lembut)...

25. Yaitu huruf Wawu dan Ya bila keduanya dalam keadaan sukun dan huruf sebelumnya berharakat fathah.

Dan sifat Inhiraf (menyimpangnya makhraj) dibenarkan...

26. Pada huruf Lam dan Ra saja. Huruf Lam makhrajnya menyimpang ke makhrajnya Nun saat mengucapkan Lam tebal dan huruf Ra menyimpang ke makhrajnya Lam saat mengucapkan Ra tipis. Lalu huruf Ra juga memiliki sifat Takrir (getaran yang berulang).

Huruf Syin memiliki sifat Tafasysyi (udara yang berhembus deras di dalam mulut). Sedangkan huruf Dhad memiliki sifat Istithaalah, yakni memanjangnya makhraj Dhad dari sisi ujung lidah hingga ujung sisi lidah pada makhraj Lam.



باب التجويد

27 وَالأَخْـذُ بِالتَّـجْـوِيـدِ حَـتْــمٌ لازِمُ *** مَــنْ لَــمْ يُـجَـوِّدِ9 الْـقُـرَانَ آثِــمُ
28 لأَنَّــهُ بِـــهِ الإِلَـــهُ أَنْـــزَلاَ *** وَهَـكَـذَا مِـنْـهُ إِلَـيْـنَـا وَصَـــلاَ
29 وَهُـوَ أَيْـضًـا حِـلْيَـةُ الـتِّـلاَوَةِ10 *** وَزِيْــنَـــةُ الأَدَاءِ وَالْــقِـــرَاءَةِ11
30 وَهْـوَ إِعْـطَـاءُ الْـحُـرُوفِ حَقَّـهَـا *** مِــنْ صِـفَـةٍ لَـهَـا12 وَمُستَحَـقَّـهَـا
31 وَرَدُّ كُـــلِّ وَاحِـــدٍ لأَصْـلِــهِ *** وَاللَّـفْـظُ فِــي نَـظِـيْـرِهِ كَمِـثْـلـهِ
32 مُكَمَّـلاً13 مِـنْ غَـيْـرِ مَــا تَكَـلُّـفِ *** بِاللُّطْـفِ فِـي النُّطْـقِ بِــلاَ تَعَـسُّـفِ
33 وَلَـيْـسَ بَـيْـنَـهُ وَبَـيْـنَ تَـرْكِـهِ *** إِلاَّ رِيَـاضَــةُ امْـــرِئٍ بِـفَـكِّــهِ


TAJWID AL QURAN

27 Dan mengamalkan tajwid hukumnya wajib secara mutlak bagi seluruh muslim mukallaf. Siapa saja orang yang sengaja tidak mengamalkan tajwid saat membaca Al- Quran, maka ia berdosa.

28 Karena bersama dengan tajwid Allah menurunkan Al-Quran dan cara membacanya. Serta bersama dengan tajwid pula Al-Quran dan cara membacanya sampai kepada kita.

29 Dan tajwid juga merupakan penghias bacaan Al-Quran. Bacaan Al-Quran menjadi indah karena tajwid, bukan sekedar karena indahnya suara atau langgam. Baik itu saat tilawah (tadarrus/ wiridan), adaa (talaqqi/ mengambil bacaan dari guru), ataupun qiraah, yakni membaca secara umum. Artinya, Al-Quran mesti dihiasi dengan tajwid dalam keadaan apapun.

30 Adapun makna tajwid adalah memberikan setiap huruf hak, berupa sifat-sifatnya dan juga mustahaknya. Hak-hak huruf adalah sifat-sifat lazimah/ dzatiyah, yakni sifat yang selalu melekat pada huruf, seperti Hams, Jahr, Syiddah, Rakhawah, Qalqalah, dan semisalnya. Sedangkan mustahak huruf maknanya adalah sifat yang kadang menyertai huruf dan kadang tidak, seperti tafkhim (tebal) dan tarqiq (tipis).

31 Tajwid juga artinya adalah mengembalikan setiap huruf ke makhraj asalnya. Yakni tidak mengucapkan huruf hijaiyah sembarangan bukan dari tempat keluar yang sebenarnya.

Serta konsisten dalam membaca lafazh-lafazh yang sama hukumnya, tidak membeda-bedakan satu sama lainnya (dalam sekali baca). Misalnya kita membaca mad wajib dengan 5 (lima) harakat pada satu ayat, maka bila bertemu dengan mad wajib di ayat yang lain, kita harus membacanya 5 (lima) harakat, dengan hitungan yang sama. Begitu pula pada hukum-hukum tajwid yang lain.

32 Tajwid juga bermakna membaca Al-Quran dengan sempurna, baik dari sisi makhraj, sifat, dan hukum-hukumnya tanpa berlebih-lebihan, seperti orang yang mengucapkan Hamzah terlalu ditekan sehingga mirip orang yang muntah, atau mengucapkan mad yang dua harakat menjadi empat hingga enam harakat. Jadi usaha kita adalah mengerahkan kemampuan sekuat tenaga hingga tercapai kesempurnaan bacaan, bukan untuk melebihi kapasitas dari apa yang disyari’atkan. Lalu mengalirkan bacaan dengan pengucapan yang lembut tanpa serampangan, yakni dengan mudah dan ringan saat mengucapkannya, namun tetap memenuhi kadar ketentuan yang telah ditetapkan. Bukan mengucapkannya sembarangan dan asal-asalan semau kita.

33 Dan tidak ada yang membedakan antara orang yang mengamalkan tajwid dengan orang yang meninggalkannya, kecuali latihan terus menerus secara konsisten dengan lisannya. Artinya, seseorang yang mempelajari tajwid tidak akan mendapatkan apa-apa. Ia tidak akan berbeda dengan orang yang tidak mempelajari tajwid kecuali bila ia rajin melatih ilmu yang dipelajarinya dengan konsisten dan diiringi dengan kesabaran.



باب التفخيم والترقيق

34 فَرَقِّـقَـنْ مُسْتَـفِـلاً مِـنْ أَحْــرُفِ *** وَحَــاذِرَنْ تَفْخِـيـمَ لَـفْـظِ الأَلِــفِ
35 كَهَـمْـزِ الْحَـمْـدِ أَعُــوذُ اهْـدِنَـا14 *** الـلَّــهِ ثُـــمَّ لاَمِ لِـلَّــهِ لَــنَــا
36 وَلْيَتَلَطَّـفْ وَعَلَـى الـلَّـهِ وَلاَ الـضْ *** وَالْمِيـمِ مِـنْ مَخْمَصَـةٍ وَمِـنْ مَـرَضْ
37 وَبَـاءِ بَــرْقٍ بَـاطِـلٍ بِـهِـمْ بِـذِي *** وَاحْرِصْ عَلَـى الشِّـدَّةِ وَالجَهْـرِ الَّـذِي
38 فِيهَـا وَفِـي الْجِيـمِ كَحُـبِّ الصَّـبْـرِ *** رَبْــوَةٍ اجْتُـثَّـتْ وَحَــجِّ الْفَـجْـرِ
39 وَبَـيِّـنَـنْ مُـقَـلْـقَـلاً15 إِنْ سَـكَنَـا *** وَإِنْ يَكُـنْ فِـي الْوَقْـفِ كَــانَ أَبْيَـنَـا
40 وَحَـاءِ حَصْحَـصَ أَحَـطـتُّ الْحَـقُّ *** وَسِـيـنَ مُسْتَقِـيـمِ يَسْـطُـو يَسْـقُـو


TAFKHIM (TEBAL) DAN TARQIQ (TIPIS)

34 Dan tarqiq-kanlah (tipiskan) suara pada huruf-huruf Istifal, karena kondisi asal mereka adalah tipis (kecuali Alif, Lam, dan Ra). Serta berhati-hatilah jangan sampai men- tafkhim-kan )menebalkan) lafazh Alif bila sebelumnya huruf-huruf tarqiq.

35 Juga berhati-hatilah jangan sampai menebalkan huruf Hamzah, seperti pada kata “Alhamdu”, “A’uudzu”, “Ihdinaa”, dan kata “Allaah”. Kemudian berhati-hatilah jangan sampai menebalkan huruf Lam pada kata “Lillaahi”, “Lanaa”,

36 Juga kata “Walyatalaththaf”, “’Alallaahi”, dan pada kata “Waladh”. Juga berhati-hatilah jangan sampai menebalkan huruf Mim, seperti pada kata “Makhmashah”, dan “Mim Maradh”,

37 Juga berhati-hatilah jangan sampai menebalkan huruf Ba, seperti pada kata “Barqin”, “Baathil”, “Bihim”, dan “Bidzi”. Lalu jagalah baik-baik sifat Syiddah dan Jahr yang ada pada...

38 Huruf Ba dan Huruf Jim, seperti kalimat “Hubbi”, “Ash-Shabri”, “Rabwatin”, “Ujtutstsat”, “Hajji”, dan “Al-Fajri”. Maksudnya jangan sampai menjadikan huruf Ba menjadi huruf yang Rakhawah atau Hams, begitu pula huruf Jim, jangan sampai menyerupai huruf “C”.

39 Dan jelaskanlah sifat Qalqalah bila hurufnya berada pada posisi sukun, dan bila berada di akhir kalimat (waqaf), maka Qalqalah-nya mesti lebih jelas lagi.

40 Dan juga berhati-hatilah jangan sampai menebalkan huruf Ha, seperti pada kata “Hash-hasha”, “Ahath-tu”, “Al-Haqqu”. Begitu pun pada huruf Sin, jangan sampai menebalkannya, seperti pada kata “Mustaqiim”, “Yasthu”, dan “Yasqu”

Do'a Menjadi Keluarga Ahli Qur'an

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

ا للّهُمَّ انْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ الْعَظِيْمَ رَبِيْعَ قُلُوْ بِنَا وَ جَلَآءَأَحْزَا نِنَا وَنُوْرَ صُدُوْرِنَا وَ ذَهَابَ غُمُوْمِنَا وَهُمُوْمِنَا


اللّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنَ الَّذِيْنَهُمْ أَهْلُكَ وَخَآصَّتُكَ يَآأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ


“Ya Allah.. jadikanlah Al-Qur’an-Mu Yang Agung, taman bunga hati kami…
penghilang rasa sedih kami, (menjadi) cahaya hati kami, dan pengusir gundah gulana kami."
"Ya Allah.. jadikanlah kami keluarga Al-Qur’an,
yaitu orang-orang yang menjadi keluarga-Mu dan yang Engkau khususkan..
Yaa Arhamar Raahimiin…”

اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ

 أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ

أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي ، وَنُورَ صَدْرِي ، وَجِلَاءَ حُزْنِي ، وَذَهَابَ هَمِّي

“Ya Allah, aku adalah hamba-Mu dan anak dari pasangan hamba-Mu. Diriku dalam kuasa-Mu. Sejak dahulu hukum dan takdir-Mu berlaku bagiku. Aku meminta kepada-Mu dengan setiap nama yang Engkau sebutkan sendiri untuk-Mu, atau nama yang Engkau ajarkan kepada salah satu makhluk-Mu, atau nama yang Engkau turunkan dalam kitab suci-Mu, atau nama yang Engkau pilih dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, untuk menjadikan Al Quran sebagai pelipur hatiku, penerang jiwaku, penerang kesedihanku, dan pelenyap keresahanku.”

Senin, 15 Oktober 2018

PROFIL GenS-Qu
YAYASAN GENERASI SAHABAT QUR’AN

LATAR BELAKANG
Pendirian Yayasan Generasi Sahabat Qur'an (Gens-Qu) diawali dengan berdirinya Rumah Tahfidz Khodijah pada 2017. Seiring aktifitas syiar dakwah qur'an yang semakin berkembang didirikanlah Yayasan Generasi Sahabat Quran yang dimaksudkan sebagai  pelayanan kepada masyarakat untuk mendapatkan pendidikan Al Qur'an yang mudah dan terjangkau (sebagian besar program pengajaran tidak berbayar) sebagai salah satu bentuk kepedulian untuk ikut ambil bagian membangun generasi penerus peradaban yang lebih baik dan bermartabat dengan kembali pada Al Qur'an dan nilai-nilainya.

NAMA YAYASAN: Yayasan Generasi Sahabat Qur'an

STATUS YAYASAN
SK MenkumHam: AHU-0009369.AH.01.04. Tahun
2017. Tanggal 5 Juni 2017
Akte Notaris: Hj. Huriah Sadeli,SH nomor 08. Tanggal 29 Mei 2017

LOKASI
Rumah Tahfidz Khodijah, komplek Taman Mangu Indah blok G1-18, RT 07 RW 06, Kelurahan Pondok Aren, Tangsel

SPIRIT AKTIFITAS YAYASAN :
• QS Ali Imran:79
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,” tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!”
•Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

• Barangsiapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan
Rasul-Nya, maka perhatikanlah, jika ia mencintai Al-Quran maka ia
mencintai Allah dan Rasul-Nya” (HR. Al Baihaqi);
• “Sesungguhnya Allah Memiliki kerabat-kerabatnya di kalangan
manusia” lalu mereka bertanya : “siapakah mereka ya Rasulullah?”
Jawab baginda : “Mereka adalah ahli Al Quran, merekalah kerabat
Allah (Ahlullah) dan orang-orang pilihannya” (HR.Ibnu Majah).

VISI & MISI YAYASAN
VISI
Menjadi Sahabat Generasi Qur’an dalam
mempelajari, memahami, menghafal, dan
mengamalkan Al-Qur’an
MISI
- Membumikan Al-Qur’an dan nilai-nilainya pada masyarakat sekaligus memberantas buta huruf Al Qur'an melalui program pendidikan dan pengajaran Al Qur'an
-Menghasilkan hafidz dan hafidzah yang berkepribadian Qur’ani Rabbani
-Menjadi lembaga yang profesional dan berintegritas dalam syiar dakwah Qur'an

PROGRAM KEGIATAN
Yayasan Generasi Sahabat Qur'an telah melaksanakan beberapa program kegiatan diantaranya:

1. Rumah Tahfidz Khodijah (RTK):
-Program Mukim untuk Yatim & Dhuafa (Akhwat)
-Program Mabit Sabtu Ahad untuk Remaja (akhwat)
-Program Reguler Tahsin Tahfidz (kelas anak & kelas dewasa)
- Kajian Parenting
-Pawai Muharram dan Gathering Santri dan Wali Santri

2. Ansyitah Ramadhan:
Pawai Tarhib Ramadhan
Pesantren Ramadhan
Lomba MHQ
Buka Bersama
Khataman Qur'an
Santunan Yatim dan dhuafa
Qur'an Camp
Pelatihan Membaca Qur'an untuk Dhuafa

3. Seminar Pelatihan Tajwid
4. Pelatihan Guru TPA & Pembentukan Forum Silaturahim Guru TPA
5. Kajian Kitab Al Kabair (Dosa2 besar)
6. Penyaluran Wakaf Mukena+Al Qur'an
7. Bakti Sosial untuk Dhuafa

Ke depan yayasan akan lebih fokus berkhidmat untuk pengelolaan dan pengembangan Rumah Tahfidz Khodijah (RTK) melalui kegiatan pengajaran dan pelatihan Qur'an bagi seluruh lapisan masyarakat.

Adapun lokasi pembelajaran tersebar di 3 tempat yaitu:
RTK 1: Komplek Taman Mangu Indah, blok G1-18, Pondok Aren, Tangsel
RTK 2: Komplek Pondok Kacang Prima
RTK 3: Lapak Pemulung Kebantenan

Program Kegiatan RTK saat ini:
Kelas Tahsin Tahfidz Anak Reguler
Kelas Tahsin Dewasa Reguler
Program Tahfidz Mukim

Insya Allah segera menyusul program tambahan di tahun 2019:
In House Training Dauroh Qur'an
Rumah Qur'an Balita (RQB)

REKENING DONASI:
Bank Muamalat, nomor rekening 330.000.7789 an. Yayasan Sahabat Generasi Quran

Bank Syariah Mandiri, nomor rekening 7098732866 an. Sri Purwaningsih