Selasa, 07 Juli 2020

Kisah Jin Mendengar Al-Quran Lantas Berdakwah pada Kaumnya


Ada kisah yang bisa diambil pelajaran yaitu tentang para jin yang mendengar Al-Quran lantas mendapatkan hidayah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ (29) قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ (30) يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآَمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (31) وَمَنْ لَا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (32(

“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)’. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: ‘Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata’.” (QS. Al-Ahqaf: 29-32)

Di antara cerita tentang ayat di atas, pernah sekelompok jin itu melewati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ketika itu beliau sedang membaca Al-Qur’an. Ini terjadi ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berputus asa dari penduduk Makkah lantas beliau pergi ke Thaif untuk mendakwahi penduduk Thaif untuk masuk Islam. Hal ini terjadi sepeninggal Abu Thalib. Dan ketika itu dibacakan Al-Qur’an saat shalat Shubuh. Ada tokoh-tokoh para jin lewat saat pembacaan Al-Qur’an tersebut, mereka mendengar Al-Qur’an tersebut dengan seksama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—menurut pendapat ini—tidak mengetahui kedatangan jin tadi. Ada yang mengatakan mereka mendengar Al-Qur’an ini di tempat yang bernama Al-Hajun, ada yang mengatakan di Bathn Makkah sebagaimana pendapat Ibnu ‘Abbas dan Mujahid.

Adapun pengertian an-nafr dalam ayat adalah jumlah antara tiga hingga sepuluh. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qutaibah.

Ada pendapat dari ‘Atha’ yang mengatakan bahwa para jin adalah Jin Yahudi, makanya disebutkan mereka mendengar kitab yang diturunkan setelah Nabi Musa.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus pula kepada para jin dan manusia. Lihat bahasan dalam Zaad Al-Masiir, 7:389-390.

Syaikh Musthafa Al-‘Adawi menerangkan bahwa kenapa sampai jin bisa mendengar Al-Qur’an dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebabnya adalah diterangkan dalam banyak hadits dan atsar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendapatkan wahyu terjadi penjagaan ketat di langit. Sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, para jin biasa mencuri berita langit. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, pencuri berita langit dilempar dengan api. Iblis yang jadi pembesar mereka memerintahkan untuk mencari tahu di bumi bagian timur dan barat, kenapa sampa bisa dilempar dengan api. Maka ada jin yang menuju Tihamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada pada pohon kurma, ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang melaksanakan shalat Fajar berjamaah bersama para sahabatnya. Ketika para jin mendengar Al-Qur’an, sebagian mereka mengatakan pada yang lain, “Diamlah.” Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai membaca Al-Qur’an, para jin tersebut kembali pada kaumnya. Para jin itu mengabarkan kepada kaumnya tentang Al-Qur’an yang mereka dengar. Demikian diterangkan dalam At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil – Juz-u Al-Ahqaf, hlm. 70.

Ketika jin mendengar Al-Qur’an, mereka menyimaknya, lantas mereka berkata,

هذا واللَّهِ الذي حَالَ بيْنَكُمْ وبيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ،فَهُنَالِكَ حِينَ رَجَعُوا إلى قَوْمِهِمْ، وقالوا: يا قَوْمَنَا: {إنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا، يَهْدِي إلى الرُّشْدِ، فَآمَنَّا به ولَنْ نُشْرِكَ برَبِّنَا أحَدًا} [الجن: 2]، فأنْزَلَ اللَّهُ علَى نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: {قُلْ أُوحِيَ إلَيَّ أنَّه اسْتَمع نَفَرٌ مِنَ الجِنِّ} [الجن: 1] وإنَّما أُوحِيَ إلَيْهِ قَوْلُ الجِنِّ

“Inilah Al-Qur’an yang membuat kalian terhalang dari mendengar berita langit.” Ketika itu mereka kembali kepada kaum mereka. Mereka berkata, “Wahai kaumku: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Rabb kami.” (QS. Al-Jin: 2). Maka Allah turunkan pada nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallamayat ‘Katakanlah (hai Muhammad): ‘Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran).’ (QS. Al-Jin: 1). Sesungguhnya diwahyukan kepadanya perkataan jin.” (HR. Bukhari, no. 773 dan Muslim, no. 449)

 

Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus pula kepada kaum jin?

Iya, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada kaum jin. Hal ini dibuktikan dengan dalil-dalil berikut. Allah Ta’ala berfirman,

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1)

يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآَمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (QS. Al-Ahqaf: 31)

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Ahqaf: 29)

 

Apakah ada rasul dari kalangan jin?

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Dari ayat ini dijadikan dalil bahwasanya jin punya dai-dai yang tugasnya memberikan peringatan, namun mereka tidak memiliki rasul. Dan tidak diragukan lagi bahwa Allah tidak mengutus rasul dari kalangan jin.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:645)

Ibnu Katsir menyebutkan dalil-dalil dalam hal ini.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ

“Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri.” (QS. Yusuf: 109)

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ

“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (QS. Al-Furqan: 20)

Juga tentang Nabi Ibrahim—kekasih Allah—disebutkan dalam ayat,

وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ

“Dan Kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada keturunannya.” (QS. Al-‘Ankabut: 27). Seluruh Nabi yang diutus oleh Allah setelah Nabi Ibrahim merupakan keturunan dari Nabi Ibrahim. Lihat keterangan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:645.

 

Al-Quran itu kitab yang turun sesudah Musa, kenapa bukan sesudah Isa?

Dalam ayat disebutkan,

قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ

“Mereka berkata: ‘Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran.” (QS. Al-Ahqaf: 30)

Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah, di sini tidaklah disebutkan Nabi Isa dikarenakan dalam Injil (yang diturunkan pada Isa) hanya berisi nasihat-nasihat dan wejangan, hanya sedikit penghalalan dan pengharaman. Injil sejatinya hanyalah penyempurna dari kitab Taurat sebelumnya. Sehingga yang dijadikan rujukan Isa adalah Taurat. Oleh karena itu, para jin dalam ayat tersebut mengatakan “Al-Qur’an yang telah diturunkan sesudah Musa”. Demikianlah yang dikatakan oleh Waraqah bin Naufal. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:645.

 

Al-Qur’an itu membenarkan kitab-kitab sebelumnya

Disebutkan dalam ayat,

مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ

“Al-Qur’an itu membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya.” (QS. Al-Ahqaf: 30). Ayat ini maksudnya–kata Ibnu Katsir–, Al-Qur’an itu membenarkan kitab-kitab yang diturunkan pada nabi-nabi sebelumnya.

 

Al-Qur’an menunjukkan pada kebenaran dan jalan yang lurus

Maksudnya adalah:

Al-Qur’an menunjukkan pada kebenaran dalam keyakinan dan beritanya. Al-Qur’an juga menunjukkan pada jalan yang lurus yaitu pada amalan. Karena Al-Qur’an berisi khabar dan thalab, yaitu berita dan tuntutan. Berita Al-Qur’an berarti benar, tuntutan (berupa perintah dan larangan) berarti adil. Itulah yang disebutkan dalam ayat,

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًاۚ

“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil.” (QS. Al-An’am: 115)

Juga disebutkan dalam ayat,

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (QS. At-Taubah: 33). Al-huda (petunjuk) yang dimaksud adalah al-‘ilmun naafi’ (ilmu yang bermanfaat). Dinul haqq (agama yang benar) yang dimaksud adalah amalan saleh.

Sehingga yang dimaksud Al-Qur’an menunjukkan pada kebenaran yaitu pada keyakinan dan Al-Qur’an menunjukkan pada jalan yang lurus pada amaliyah. Demikian hal ini diterangkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:645.

 

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus pada kalangan jin dan manusia

Hal ini ditunjukkan pada ayat,

يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآَمِنُوا بِهِ

“Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya.” (QS. Al-Ahqaf: 31)

 

Apakah jin mukmin masuk surga?

Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan bahwa jin mukmin itu masuk surga sebagaimana pendapat dari sekelompok ulama salaf. Dalil dalam hal ini adalah firman Allah,

يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (QS. Al-Ahqaf: 31)

Begitu juga berdalil dengan keumuman ayat,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 107)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Balasan bagi ahli iman dengan diampuni dosa dan dilepaskan dari siksa yang pedih merupakan konsekuensi dari masuk surga. Karena di akhirat hanya ada dua pilihan yaitu surga atau neraka. Siapa yang selamat dari neraka, maka pasti ia akan masuk surga. Dan tidak ada dalil yang menyatakan kalau jin mukmin tidak masuk surga ketika lepas dari siksa neraka. Seandainya tepat, tentu kami akan berpendapat seperti itu pula. Wallahu a’lam.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:646)

Kita diajarkan untuk menyimak Al-Qur’an

Hal ini disimpulkan dari,

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)’. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al-Ahqaf: 29)

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini, beliau rahimahullah berkata, “Mereka mendengarkan Al-Qur’an (benar-benar fokus mendengarkannya). Itulah adab dari mereka para jin.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:644)

 



Sabtu, 27 Juni 2020

Mereka yang Tersungkur karena Al-Quran


Kisah ini menceritakan seorang hamba Allah yang sangat peka terhadap firman Tuhannya. Pemahamannya terhadap Al-Quran dan rasa takutnya terhadap Sang Pencipta menyebabkan hatinya sangat luluh terhadap Al-Quran. Dia bisa jatuh tersungkur, menangis tersedu-sedu, pingsan, bahkan hingga wafat, karena mendengar lantunan Al-Quran. Bukan dibuat-buat, tapi benar-benar karena buah ketakwaannya.

Barangkali merekalah orang yang dimaksud dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَقْوَامٌ أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ

“Akan masuk surga sekelompok orang, hati mereka seperti hati burung.” (HR. Ahmad 8382 & Muslim 2840)

Dalam kitab Syarh Shahih Muslim (17/177), Imam Nawawi menyebutkan, ada 3 pendapat ulama dalam memaknai orang yang hatinya seperti hati burung.

Pertama, orang yang hatinya lembut, pemahaman agama dan hikmahnya banyak.

Kedua, orang yang hatinya mudah takut kepada Allah, mudah dinasihati dan kembali kepada kebenaran.

Ketiga, orang yang hatinya sangat bergantung dan tawakkal kepada Allah, seperti burung yang berikhtiar mencari makan di pagi hari dalam perut kosong, lalu kembali dengan perut kenyang.

Hati yang sangat lunak dan lembut dipenuhi dengan ketakutan kepada Allah sehingga mudah kembali pada jalan-Nya. Sebagaimana burung, binatang yang sangat peka dan mudah kaget.

Diantara hamba Allah yang bisa mencapai derajat semacam ini adalah Ali bin Fudhail bin Iyadh rahimahullah. Beliau digelari qatilul qur’an (orang yang ‘dibunuh’ Al-Quran). Al-Munawi dalam Faidhul Qadir (6/460) mengatakan:

وسمي علي بن الفضيل قتيل القرآن

“Ali bin Fudhail digelari qatilul quran”

Beliau bukan ahlul bait. Bukan pula keturunan kerajaan. Beliau putra seorang ulama yang dikenal sangat zuhud, Fudhail bin Iyadh rahimahullah.

Diceritakan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (2/302), dari Muhammad bin Bisyr Al-Makki, beliau bercerita:

Pada suatu hari kami bernah berjalan bersama Ali bin Fudhail. Kemudian kami melewati daerah Bani Al-Harits Al-Makhzumi, yang pada saat itu ada seorang guru  yang sedang mengajar anak-anak. Kemudian sang guru membaca firman Allah:

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى

“Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).” (QS. An-Najm: 31)

Tiba-tiba Ali bin Fudhail langsung teriak dan jatuh pingsan. Datanglah ayahnya dan mengatakan: “Sungguh, dia terbunuh karena Al-Quran.”

Kemudian dia dibawa pulang. Salah seorang yang membawanya pulang bercerita bahwa Fudhail, ayahnya mengabarkan, Ali tidak bisa shalat pada hari itu, shalat dzuhur, asar, maghrib, dan isya karena koma. Pada tengah malam dia baru tersadar.

Di lain kasus, Ibnu Qudamah menceritakan kisah seorang pemuda dalam kitabnya At-Tawwabin. Seorang pemuda dari Al-Azd. Beliau menghadiri majlis ilmu. Ketika beliau mendengar ada orang yang membaca firman Allah:

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ

Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya. (QS. Ghafir: 18)

Tiba-tiba, beliau jatuh tersungkur, pingsan. Akhirnya dia diangkat di tengah keramaian banyak orang dalam kondisi pingsan. Masya Allah..sebegitu pekanya keimanan orang-orang yang hatinya telah tersbung begitu kuatnya dengan Kalamullah.

Bila kita renungkan Ramadhan kali ini sesungguhnya memberikan peluang dan kesempatan besar untuk menghadirkan hati yang seperti ini. Memperbanyak tadabbur qur'an, muhasabah, tafakkur menemukan hikmah dari setiap peristiwa kehidupan kita. Memperbanyak istighfar dan bertaubat sambil bertawakal agar sukses meraih kemenangan Ramadhan dengan mendapatkan buah ketaqwaan. 

Ya Rabb, jadikanlah kami hamba-Mu yang lunak hatinya, dan mencintai mereka yang lunak hatinya karena cinta dan takut kepada-Mu ya Allah..

اللّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنَ الَّذِيْنَهُمْ أَهْلُكَ وَخَآصَّتُكَ يَآأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

"Ya Allah.. jadikanlah kami keluarga Al-Qur’an,
yaitu orang-orang yang menjadi keluarga-Mu dan yang Engkau khususkan.. 
Wahai Yang Paling Penyayang diantara yang penyayang"